Mengenal Allah Ta'ala


Alif = Hakikatnya Cahaya Merah
Lam (Awwal ) = Hakikatnya Cahaya Kuning
Lam (Akhir) = Hakikatnya Cahaya Putih
Ha = Hakikatnya Cahaya Hitam
Tasydid = Hakikatnya Johar Awwal

Cahaya yang tersebut di atas disebut dengan “ISMU DZAT” atau Asmanya Dzat, dan menurut ahli dzikir disebut dengan “LATIFAH”. Itulah tempat kembalinya kita semua, maka wajib hukumnya untuk diketahui oleh kita sejak dini.

Maka carilah tarekat yang bisa membukakan hijab atau penutup yang menyelubungi Dzat dan Sifat-Nya Allah Ta’ala, demikian juga hakikat dari Tasydid lafad Muhammad yang terdapat dalam diri ini. Karena itulah merupakan kunci untuk membuka hijab yang menyelubungi Dzat dan Sifat-Nya Allah Ta’ala, sehingga kita dapat menemukan-Nya, untuk dapat memenuhi kriteria “MULIH KA JATI MULANG KA ASAL”(pribahasa bahasa sunda), yaitu : “Kembalinya Rasa Jasmani yang sekarang sedang dipakai, kepada Rasa Ruhani dimana kita berada dalam “NURULLAH” (Johar Awwal)”. Sedang Kembali lagi Ke Asal yaitu : “Kembalinya Jasmani ke asalnya lagi yaitu menjadi Nur Muhammad atau kembali ke Cahaya yang 4 (empat) Jenis yang disebut juga intisari bumi / adam. Dan sewaktu waktu kita bisa kembali ke asal, maka kita bisa sempurna, artinya habis, bersih rasanya, sempurna jasmani dan rohaninya.

MENGENAL DZAT ALLAH TA’ALA

Bagaimana caranya kita mengenal Dzat Allah? Dimana? Kemana kita harus mencari Dzat Allah? Apakah harus ke Mekkah ataukah ke negeri Cina? Apakah sedemikian jauhnya Dzat Allah itu berada?
Bagi umat Islam sebagai bahan rujukannya adalah Al Qur’an dan hadits qudsy serta hadist Rosulullah SAW.

“Barang siapa mencari tuhan-Nya keluar dari dirinya sendiri, Maka jelas – jelas telah tersesat, tersesat yang sangatjauh.”
Karena sesungguhnya “DIA” adalah dekat :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
 (AL Qaf 50 : 16).”


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran .
(al-Baqarah 2:186).

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” 
(QS: Fushshilat Ayat: 53)


“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” 
(QS: Fushshilat Ayat: 54)


”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
 (QS At-Taubah 9:128)


“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
 (QS Ad Dzaritat 51:21)


“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
 (QS Al Anfaal 8:24)



“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .”
(QS At Tien 95:4).


“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal tuhannya”

“Barang siapa mengenal dirinya sendiri, maka ia akan mengenal tuhannya, dan barang siapa yang mengenal tuhannya, maka lidahnya akan kelu.”

Keterangan ulama mengenai hadits di atas, yaitu :

Ditanyai Ibnu Hajar al-Haitamy r.a. mengenai hadits ini : Siapakah yang meriwayatnya?. Beliau Ibnu Hajar al-Haitamy r.a, menjawab dengan perkataannya: “Hadits tersebut tidak ada asal baginya. Perkataan tersebut hanya dihikayah dari perkataan Yahya bin Mu’az al-Razy, seorang sufi. Maknanya adalah barang siapa yang mengenal dirinya dengan sifat lemah, membutuhkan, lalai, hina dan tidak tercapai maksud, maka akan mengenal tuhannya dengan sifat-sifat jalal dan jamal atas yang patut bagi kedua sifat itu, maka seorang hamba selalu melakukan muraqabah sehingga dibukakan kepadanya pintu musyahadahnya. (Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsah, Darul Fikri, Beirut, Hal. 206)

Didalam al-Fatawa an-Nawawi disebutkan :

Apakah hadits ini tsabit atau tidak ? dan apa maknanya?”. Jawab : “Hadits itu tidak tsabit. Seandaipun tsabit, maknanya adalah barang siapa yang mengenal dirinya dengan sifat dha’if, berhajad kepada Allah Ta’ala dan ber’ubudiyah kepada-Nya, maka akan mengenal tuhannya dengan sifat Kuasa, Perkasa, Rububiyah, Sempurna Mutlaq dan sifat-sifat yang tinggi. Dan barang siapa yang mengenal tuhan dengan demikian, maka kelu lidahnya dari sampai kepada hakikat syukur dan puji kepada tuhannya, sebagaimana tersebut dalam hadits Shahih Muslim dan lainnya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak dapat aku hitung pujian atas-Mu sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu”. ( An-Nawawi, al-Fatawa, Hal. 136.)

Dalam mencari, mengenal adanya Dzat Allah, kita juga diberi petunjuk oleh Al-Qur’an , agar kita membaca kitab, bukan sekedar kitab yang sifatnya dapat rusak (Fana), karena Allah Ta’ala telahpun memberikan petunjuk lewat kitab yang langgeng adanya, sebagaimana Ayat dibawah ini :

"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu".
(QS Al-Isra’ 17:14).

Karena dengan kitab yang terdapat dalam diri kita, kita bisa langsung merasakan Qudrat dan Iradat-Nya Allah Ta’ala. Kita bisa merasakan dengan jelas dan nyata akan Dzat-Nya yang bersemayam dalam diri kita.
Mengenal Allah ada 4 (empat) cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.
Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci.
Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya:


“SeSngguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” 
(QS. Ali Imran 3: 190)
Mengenal Allah Ta'ala

Proses Peniupan Ruh

Proses Peniupan Ruh

Setelah jasad nabi Adam sempurna, maka Allah meniupkan ruh kepadanya. Seperti tersebut dalam QS. Al-Hijr:28 dan Al baqarah :87

“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.QS. Al-Hijr:28

“ ……..dan kami memperkuatnya dengan ruh al quds…” (al baqarah :87).

Berkata Imam “Azizi: Ruh pertama kali di tiupkan ke tubuh nabi Adam pada hari Jum’at siang. Ruh di tiupkan ke tubuh nabi Adam melalui kepala, yakni ubun-ubun / otak. Dalam suatu riwayat: Allah mewahyukan kepada ruh agar masuk ke tubuh nabi Adam melalui kepala namun menolaknya. Akhirnya Allah memaksanya dan akhirnya ruhpun masuk dengan terpaksa. Kemudian Allah berfirman kepada ruh: “Seandainya engkau masuk dengan mudah niscaya engkau akan keluar dengan mudah (tanpa di cabut), maka masuklah dengan terpaksa dan keluarlah dengan terpaksa ” ( Inilah awal mula kenapa keluarnya ruh dari dalam tubuh harus di cabut oleh malaikat Izrail).

Di ubun-ubun / otak ruh berputar-putar selama 100 tahun didalamnya (Ini menunjukkan bahwa otak adalah lah bagian dari tubuh manusia yang paling pokok). Kemudian turun ke kedua mata, nabi Adam pun langsung bisa melihat. Lalu ruh turun ke rongga hidung dan nabi Adam langsung dapat mencium udara dan langsung bersin. Lantas turun ke mulut dan lidah. Saat itu pula Allah mewahyukan kepada nabi Adam doa pujian dan nabi Adam langsung mengucapkan:

“Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin” (segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam). Kemudian Allah menjawabnya:

“Yarhamuka robbuka ya Adam, haadzaa laka wadzurriyyatika” (semoga Tuhanmu merahmatimu wahai Adam, ini buatmu dan anak cucumu) (Inilah asal mula kita di sunatkan smenbaca kalimat Tahmid “Alhamdu lillah” ketika bersin dan bagi yang mendengarnya di sunatkan baca: “Yarhamukallooh”).

Kemudian ruh turun ke dada. Dalam satu riwayat: Ketika ruh masuk ke bagian tubuh, lantas nabi Adam menyaksikan langsung perubahan tubuhnya sendiri yang semula berupa tanah tiba-tiba berubah dengan sendirinya menjadi daging lengkap dengan kulit, tulang, otot, urat dan darah. Kemudian ruh turun lagi ke lutut, dan seketika itu nabi Adam bernafsu dan buru-buru hendak berdiri dan berjalan, namun dia tidak kuasa (Inilah mula-mula manusia memiliki sifat tergesa-gesa. “ Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa”. Al-Anbiya’: 37).

Ketika ruh sudah sampai ke seluruh jasad, maka jadilah manusia sempurna dan langsung berdiri serta bergerak meliuk-liukkan badannya.

Berkata Al-Hafidz Ismail As-Suda: Dalam sehari-semalam (24 jam) nabi Adam bernafas sebanyak 30.000 kali, atau 1292 kali setiap satu jamnya.

Demikian panjang lebar kami menjelaskan asal kejadian Nabi ADAM, yang tercipta dari saripati bumi ini,maka dapatlah kita simpulkan kalaulah jasad ini terdiri dari berbagai macam unsur.

Dimana jasad manusia memiliki (mengandung) 4 anasir atau 4 unsur yang berasal dari “NUR MUHAMMAD” yaitu :

1. Unsur Api ( Cahaya Merah )

QS. Al Baqarah (2):24.

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jasad manusia mengandung unsur api, karena isi neraka adalah serba panas (serba api) yg bahan bakarnya dari batu dan orang kafir. Selain itu setiap makanan yang kita makan jika prosesnya dimasak dulu tentu pasti menggunakan api. Contohnya memasak sayuran, nasi dll tentu menggunakan api. Dengan demikian makanan yang kita makan tsb mengandung anasir api.

Anasir/unsur api tidak dapat berdiri sendiri, dia untuk bisa hidup perlu anasir lain yaitu anasir angin/udara (oksigen).

2. Unsur udara/angin ( Cahaya Kuning )

QS.Shaad (38):71-72

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."

Sebagian ayat diatas terdapat kalimat ".............dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku.............."

Dari ayat diatas terdapat sebuah kata yg perlu digaris bawahi, yaitu kata "tiup" . Tiup biasanya ada hubungannya dengan angin. (Wa Allahu 'alam bissawab, hanya Allah SWT saja yang Maha Tahu tafsir ayat diatas). Saya sebagai penulis mohon ampun kepada Allah SWT dan minta maaf kpd para pembaca jika penafsiran/pemahaman saya tentang "tiup" diatas ternyata salah. Selain itu sesuatu yang hidup (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan) tentu membutuhkan udara (mungkin Oksigen atau CO2). Kita juga membutuhkan udara (oksigen) untuk bernafas. Ini berarti tubuh kita juga mengandung anasir angin/udara.

3. Unsur Air ( Cahaya Putih )

QS.Al Furqaan (25):54.

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa”.

Yang dimaksud air tersebut adalah air mani yang mana air mani itu salah satunya mengandung unsur air.

Selain itu badan kita juga mengandung 60% air, darah mengandung 90% air, makanan kita juga mengandung air.Itu semua artinya bahwa jasad kita mengandung anasir air atau unsur air.

4. Unsur Tanah / Bumi ( Cahaya Hitam )

QS.Shaad (38):71-72

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."

Yang dimaksud manusia pada ayat diatas adalah Nabi Adam AS. Selanjutnya unsur tanah tersebut di turunkan ke anak cucu Nabi Adam.

Selain itu makanan yang kita makan sebetulnya adalah berasal dari tanah (saripati tanah) Dengan demikian berarti bahwa badan/jasad kita mengandung tanah.

Sekarang, kita juga bertanya : Apakah “NUR MUHAMMAD” itu ?? dan berasal dari mana ..??. Dijelaskan dalam satu riwayat, Suatu hari Sayidina Ali, karamallahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Muhammad SAW bertanya, "Wahai (Nabi) Muhammad, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa yang diciptakan Allah Ta’ala sebelum semua makhluk ciptaan?" Beliau menjawab : "Sesungguhnya, sebelum Rabbmu menciptakan lainnya, Dia menciptakan Nur-Nya Nur Nabimu."

Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani dalam bukunya, Sirrul Asraar pada bagian Mukoddimah mengatakan, "Allah Taala dalam hadis Qudsi berfirman, "sesungguhnya Aku(Allah) menciptakan ruh Muhammad itu bersal dari Nur Wajahku."

Di Hadist yang lain, yang diriwayatkan dari Abdurrazaq ra yang diterimanya dari Jabir ra, bahwa Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula sekali Allah jadikan?". Rasulullah saw menjawab : "Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah nur Nabimu dari Nur-Nya."

Nur Muhammad itu sudah ada sebelum adanya segala sesuatu di alam ini. Nur Muhammad dianugerahi tujuh lautan : Laut Ilmu, Laut Latif, Laut Pikir, Laut Sabar, Laut Akal, Laut Rahman, dan Laut Cahaya. Dia kemudian membagi Nur ini menjadi Empat Bagian .

Dari bagian pertama Dia menciptakan QALAM (Pena). dari bagian kedua Lawhal-Mahfudz, dan dari bagian ketiga ‘Arsy”.

Diketahui bahwa ketika Allah menciptakan Lawhal-Mahfudz dan Qalam. Pada Qalam itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Allah kemudian memerintahkan Qalam untuk menulis, dan Qalam bertanya, "Ya Allah, apa yang harus saya tulis?" Allah berfirman, “Tulislah : la ilaha illallah, Muhammadan Rasulullah”. Atas itu Qalam berseru, "Oh, betapa sebuah nama yang indah, agung Muhammad itu bahwa dia disebut bersama Asma Mu yang Suci, ya Allah".

Allah kemudian berfirman, "Wahai Qalam, jagalah kelakuanmu ! Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan ‘Arsy dan Qalam dan Lawhal-Mahfudz; kamu, juga diciptakan dari Nurnya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun”.

Ketika Allah SWT telah mengatakan kalimat tersebut, Qalam itu terbelah dua karena takutnya kepada Allah, dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup/terhalang, sehingga sampai dengan hari ini ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia Ilahiah Yang Agung.

Kemudian Allah memerintahkan Qalam untuk menulis "Apa yang harus saya tulis, Ya Allah?" bertanya Qolam. Kemudian Rabb al Alamin berkata, "Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan !”. Berkata Qalam, "Ya Allah, apa yang harus saya mulai?". Berfirman Allah, "Kamu harus memulai dengan kata-kata ini: Bismillah al-Rahman al-Rahim."

Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Qalam bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Kitab (lawh al-mahfudz), dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam 700 tahun. Dan Ketika Qalam telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berfirman "Telah memakan 700 tahun untuk kamu menulis tiga Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan Empati-Ku. Tiga kata-kata yang penuh barakah ini saya buat sebagai sebuah hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad. Dengan Keagungan-Ku, Aku berjanji bahwa bilamana abdi manapun dari ummat ini menyebutkan kata Bismillah dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuk abdi tadi, dan 700 tahun dosa akan Aku hapuskan.”

“Sekarang (selanjutnya), bagaian ke-empat dari Nur itu Aku bagi lagi menjadi empat bagian: Dari bagian pertama Aku ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-’Arsy); Dari bagian kedua Aku telah ciptakan Kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga Singgasana Ilahiah, ‘Arsy); Dari bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat (makhluk) langit lainnya.”

“kemudian bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari bagian pertama Aku membuat semua langit, dari bagian Kedua Aku membuat bumi-bumi, dari bagian ketiga Aku membuat jin dan api.”

“Bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian : dari bagian pertama Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari bagian kedua Aku membuat cahaya di dalam jantung mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari bagian ketiga aku jadikan cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tawhid (Hu Allahu Ahad), dan dari bagian keempat Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad SAW”.

Ruh yang cantik ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia ini, dan itu dibentuk sangat (paling) cantik dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati. Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah). Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan, pipinya dari cinta dan kehati-hatian, perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan, kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rahman.

Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalahnya dan kualitas kenabiannya dipasang. Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh barokah, masyhur dan tinggi di atas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah) yang murni dan suci.

Kemudian Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dinamakan Syajaratul Yaqin. Tangkainya berjumlah empat. Kemudian diletakanlah Nur Muhammad pada pohon tersebut. Namun, kehadiran Nur Muhammad, itu membuat pohon bergetar hebat hingga berubah menjadi permata putih. Sedangkan Nur Muhammad memuji bertasbih ke hadirat Allah Ta’ala 70.000 tahun lamanya. Pada permata tersebut, Nur Muhammad mencoba bercermin. Wajahnya begitu indah dilihat. Bentuknya seperti burung merak, dan pakaiannya demikian indah. Dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian ia bersujud lima kali.

Allah SWT melihatnya, membuat Nur tersebut merasa malu dan takut. Lalu keluar keringat dari kepalanya. Dari keringat tersebut Allah SWT menciptakan nyawa malaikat. Dari keringat wajahnya, diciptakanlah nyawa ‘Arsy, matahari, bulan, bintang, dan apa-apa yang ada di langit. Keringat dadanya menjadi bahan untuk menciptakan nyawa para rasul, nabi, wali, ulama, dan orang orang shaleh. Adapun keringat yang muncul dari keningnya, diciptakanlah nyawa orang-orang mukmin dari umat Nabi Muhammad saw. Dari keringat kedua telinganya, diciptakan oleh Allah SWT nyawa orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang kafir, dan sesat. Sedangkan keringat kakinya di antaranya menjadi isi bumi.

Pada waktu selanjutnya Allah SWT menciptakan lentera akik yang merah yang cahayanya menembus ke dalam dan keluar. Lalu Nur Muhammad dimasukkan ke dalam lentera tersebut. Berada di dalamnya dalam posisi berdiri. Sementara nyawa-nyawa yang sudah tercipta berada di luar. Seluruhnya membaca "Subhanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallahu akbar". 1.000 tahun lamanya nyawa-nyawa itu diperintahkan Allah SWT untuk melihat ke diri Nur Muhammad.

Nyawa yang berhasil melihat kepala Nur Muhammad, maka ia akan ditakdirkan menjadi pemimpin/penguasa. Siapa yang melihat ubun-ubunnya, itulah mereka yang akan menjadi guru/pendidik yang jujur. Siapa yang melihat matanya, ia akan menjadi hafidz (penghapal Al Quran). Mereka yang memandang telinganya akan menjadi mereka yang menerima peringatan dan nasehat. Adapun yang bisa melihat hidungngya, mereka itu akan menjadi ahli bicara atau dokter. Sedangkan mereka nyawa-nyawa yang berhasil melihat bibir Nur Muhammad, ia akan ditakdirkan menjadi seorang menteri. Nyawa yang melihat bagian giginya maka wajahnya kelak akan cantik rupawan, ia yang bisa melihat lidahnya, akan jadilah utusan/duta raja-raja.

Apabila yang dilihat lehernya, ditakdirkanlah menjadi orang berdagang dan usahawan. Apabila tengkuk yang bisa dilihatnya, akan jadilah seorang tentara. Mereka yang berhasil melihat kedua lengan tangannya, maka akan jadi perwira. Jika sikut kanannya yang dilihat, Allah SWT akan menjadikan dirinya berkehidupan dalam dunia tekstil, sedangkan kalau sikut Kirinya, ia akan menjadi orang yang pernah membunuh. Serta, jika dadanya yang berhasil dilihat, maka ia akan menjadi ulama yang disegani. Bila bagian belakang, ia akan ditakdirkan menjadi para ahli sosial kemasyarakatan. Dan jika hanya bayangannya yang berhasil dilihat, maka ia akan menjadi orang yang berkecimpung dalam bidang seni.

Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh barokah akan menjadi khatib dan mu’adzin (yang mengumandangkan adzan). Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah. Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal laut. Siapa yang melihat tangan kananya akan menjadi seorang pemimpin, dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur suatu kebutuhan hidup).

Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang calligrapher, dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi. Siapa yang melihat dadanya yang penuh barokah akan menjadi seorang terpelajar meninggalkan keduniaan (ascetic) dan berilmu.

Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada hukum syari’at. Siapa yang melihat sisi badannya yang penuh barokah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas, dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi mereka yang melaksanakan ruku dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh barokah akan menjadi seorang pemburu, dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi mereka yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute).

Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum takberiman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi mereka yang akan menyatakan bahwa dirinya adalah tuhan, seperti Namrudz, Firaun, dan sejenisnya.

Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris. Di baris pertama berdiri ruh para nabi dan rasul, di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat. Dibaris ketiga berdiri ruh kaum beriman, laki – laki dan perempuan. Di baris ke empat berdiri ruh kaum tak beriman.

Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di hadhirat Allah SWT sampai waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik. Tidak seorang pun tahu kecuali Allah SWT yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh barokah Nabi Muhammad sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.

Diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bertanya kepada malaikat Jibril , "Berapa lama sejak engkau diciptakan?" Malaikat itu menjawab, "Ya Rasulullah, saya tidak tahu jumlah tahunnya, yang saya tahu bahwa setiap 70.000 tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiah: sejak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12.000 kali."

"Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?" bertanya Nabi Muhammad SAW "Tidak, saya tidak tahu," berkata malaikat itu. "Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh, jawab Nabi Muhammad SAW”.

catatan :
Beberapa kalangan dalam ummat Islam mempersoalkan konsep Nur Muhammad (Cahaya Muhammad atau Ruh Muhammad) sebagai suatu konsep yang tidak memiliki dasar dalam ‘aqidah Islam. Padahal, berdasarkan data-data yang kuat, konsep Nur Muhammad adalah suatu konsep ‘aqidah yang diterima dan diakui oleh ijma’ (konsensus) ulama ilmu kalam dan ulama’ tasawwuf dalam kurun waktu yang panjang, sebagai suatu konsep yang memiliki sumber dalilnya dari Qur’an dan Hadits Nabi sallallahu ‘alayhi wasallam. Konsep ‘aqidah Nur Muhammad salallahu ‘alayhi wasallam menyatakan antara lain bahwa cahaya atau ruh dari Nabi Besar Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam adalah makhluk pertama yang diciptakan sang Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang kemudian darinya, Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk-makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam sebagai Nuur (cahaya), atau sebagai "Siraajan Muniiran" (makna literal: Lampu yang Bercahaya).

Demikian penjelasan tentang Asal dari “NUR MUHAMMAD” yang bersumber dari “NURULAH” Nur Dzat Yang Maha Suci, yang disebut juga “JOHAR AWWAL”. Dan sangat jelas, kalaulah “JOHAR AWWAL” adalah merupakan sumber dari terjadinya tujuh langit, tujuh bumi beserta isinya.

Dari sini kita tahu kalaulah kita sekalian berasal dari “NURULLAH” atau juga disebut “JOHAR AWWAL” yang sifatnya terang benderang dalam gulungan Dzat, juga sifatnya Maha Suci, dan Maha dari Segala Maha…

Maksudnya : …………"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah jualah kami kembali".(Al-Baqoroh: Ayat:156)

Proses Peniupan Ruh

Proses Pembentukan Adam AS

Proses Pembentukan Adam AS

Setelah tanah tadi menjadi cairan, kemudian malaikat Jibril di perintah oleh Allah agar cairan itu didiamkan melalui tiga tahap:

  • Pertama di diamkan selama 40 tahun sampai akhirnya menjadi tanah liat (Thin laazib). Inilah yang Allah sebutkan dalam QS. As-Shaffat:11.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat”.

  • Kedua di diamkan lagi selama 40 tahun sampai menjadi tanah kering yang berbentuk manusia (Shalshal). Ini yang Allah sebutkan dalam QS. Al-Hijr:28.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.

  • Ketiga di diamkan kembali selama 40 tahun (Al-Insan:1. Menurut Ibnu Abbas: “Masa (al-hin) di sini adalah waktu 40 tahun”) dalam posisi telentang di jalanan tempat lalu-lalangnya para malaikat naik dan turun dari langit ke bumi.

Menurut Ibnu Abbas: Pada suatu ketika, Iblis melewati tanah berbentuk nabi Adam itu, tiba-tiba iblis menampar perut nabi Adam hingga membekas (nilah asal mula adanya pusar manusia, ialah bekas tamparan iblis). Sampai akhirnya jadilah wujud Nabi Adam dengan sempurna, tinggi 60 dzira’ (Satu dzira’ = 58 cm) dan lengkap dengan anggota tubuhnya namun belum di beri ruh.

Menurut Imam Ats-Tsa’labi: Selama dalam tahapan ketiga Allah menghujaninya dengan dua macam hujan: selama 40 tahun berupa hujan kesedihan dan satu tahun berupa hujan kesenangan ( Inilah sebabnya kesedihan manusia lebih banyak dari kesenangannya).

Menurut Abu Musa Al-Asy’ari: Ketika Allah menciptakan qubul (Ialah tempat buang air kecil (kemaluan) ) nabi Adam, Allah berfirman: “Sesungguhnya ini adalah amanat-Ku pada dirimu. Jangan sekali-kali engkau tempatkan ini kecuali pada haqnya”.
Proses Pembentukan Adam AS

Jalan Ma'rifat Kepada Allah

JALAN-JALANNYA MA’RIFAT KEPADA ALLAH TA’ALA

Sedang jalan untuk Ma’rifat kepada Allah Ta’ala, adalah ada 2 (Dua) Jalan :

1. Perjalanan Ma’rifat dari bawah ke atas

Adapun yang dimaksud Perjalanan Ma’rifat kepada Allah Ta’ala dari bawah ke atas adalah mereka yang menjalani perjalanan Ma’rifatnya berawal dari mempelajari ilmunya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dengan mempelajari kitab-kitab, Al-qur’an, dan mengamalkannya. Yang demikian adalah merupakan perjalanan Ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Tapi sayang banyak diantaranya yang tidak tersampaikan ke jalan Ma’rifat kepada Allah Ta’ala tersebut, mereka kebanyakan sudah merasa kerasan (terlena) karena kebesaran “ASMA”, artinya mereka sudah merasa nikmat dan berhenti hanya setakat “PAL-MUNJUK” (“PAL-MUNJUK”adalah papan merk yang menunjukan tempat). Padahal kalau mereka meneruskan lagi ke jalan Ma’rifat kepada Dzat dan Sifat-Nya apakah tidak bertambah kenikmatan yang akan di perolehnya nanti, sedangkan baru sampai Ma’rifat kepada “ASMA”-Nya saja sudah begitu nikmatnya, apatah lagi kalau mereka meningkatkannya kepada yang lebih.

2. Perjalanan Ma’rifat dari atas ke bawah

Adapun mereka yang menjalani perjalanan Ma’rifat kepada Allah Ta’ala dari atas ke bawah, adaah mereka yang memenuhi persyaratan :


AWWALUD DIINI MA’RIFATULLAHI TA’ALA
Maksudnya : Awalnya Agama Adalah Mengetahui akan Allah Ta’ala

Kebanyakan diantara mereka adalah dengan jalan “NGAJI DIRI” dengan banyak tirakat dan ikhtiyar mencari Guru Mursyid, Guru Yang Hak benarnya, sebab tanpa ada pembimbing dari Guru kita tidak akan pernah tahu, bahkan sampai kepada Ma’rifat Allah Ta’ala.

Demikian halnya, maka jalan yang harus kita tempuh adalah “TAREKAT PARA WALI” Karena jalan inilah yang akan membimbing kita untuk bisa sampai Ma’rifat kepada Sifat Allah Ta’ala, atau yang disebut dengan “JOHAR AWWAL” yaitu hakekatnya “MUHAMMAD”.

Sebagaimana kita mengenang perjuangan Para Waliyullah, yang begitu gigih untuk banyak melakukan penyampaian dan tirakat dalam rangka membela ummat Rosululah SAW, agar diakhir hayatnya bisa kembali lagi kepada Allah Ta’ala.

Dengan demikian mari kita semua mencari jalan TAREKAT WALI tersebut, sebab kalau kita tidak cepat mencarinya, dan lebih terdahului oleh kematian, tentu kita tidak akan mampu untuk kembali lagi ke asal. Pasti nyawa kita akan terseret dan kembali lagi ke dunia, menitis kepada barang yang tidak abadi, karena tidak bisa memenuhi :
Maksudnya : …………"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah jualah kami kembali".(Al-Baqoroh: Ayat:156)

Mungkin kita semua tahu akan isi penggalan ayat tersebut, namun betapa kita percaya apakah benar diri ini asalnya dari Allah Ta’ala..??. percaya atau tidak percaya, secara lahiriah kita tidak merasakan, kalau kita berangkat dari Allah, untuk turun kealam dunia ini. Tapi karena adanya dalil dari ayat tersebut diatas, maka mau tidak mau kita harus mengatakan kalau kita berasal dari Allah Ta’ala, karena takut dikatakan kuffur atau kaffir sebab tidak percaya dengan ayat tersebut. Tapi saya yakin, dengan apa yang di maksud oleh ayat tersebut, kita masih buta karena kita sama sekali tidak merasakan atau lupa, kalau kita berasal dari Allah Ta’ala.

Dengan demikian, mari kita telusuri kalau kita adalah benar datangnya dari Allah Ta’ala, agar dapat difahami dan dapat dimengerti oleh akal.

Pertama mari kita jawab pertanyaan ini “Kita Berasal Darimana??”

Secara Umum, manusia keluar dari rahim seorang ibu, dan ibu berasal dari ibunya ibu dan seterusnya akan sampai ke Ibunda “HAWA”, sedangkan Ibunda HAWA sendiri menurut berbagai sumber, beliau berasal dari tulang rusuk nya Nabi ADAM (Manusia Pertama ).

Allah berfirman dalam Al-qur’an Surah Annisa : 1 :

“Wahai sekalian manusia! bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) dari diri yang satu (Adam), dan yang menjadikan daripada (Adam) itu pasangannya (isterinya - Hawa), dan juga yang membiakkan dari keduanya - zuriat keturunan - lelaki dan perempuan yang ramai. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut-nyebut namaNya, serta peliharalah hubungan (silatur-rahim) kaum kerabat kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati (mengawas) kamu”. (Annisa:1)

Sedang Nabi ADAM sendiri diciptakan Allah Ta’ala dari :

Di katakana oleh imam Ats-Tsa’labi:

Ketika Allah hendak menciptakan Adam dari tanah, terlebih dahulu Allah mengabarkan kepada bumi: “Hai bumi, Aku akan ciptakan manusia dari saripatimu. Sebagian meraka ada yang taat kepada-Ku dan sebagian lainnya durhaka kepada-Ku. Siapa yang taat kepada-Ku maka akan Aku masukkan dia kedalam sorga-Ku, dan siapa yang durhaka kepada-Ku akan Aku masukkan dia kedalam neraka-Ku”. (Inilah asal mula kenapa manusia ada yang taat dan ada pula yang durhaka.)

Kemudian Allah mengutus kepada Jibril untuk turun ke bumi mengambil segenggam tanah. Ketika Jibril hendak mengambil sebagian tanah itu, bumi menolak dan bersumpah: ”Demi Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utusan-Mu, agar Engkau tidak mengambil sebagian dari kami jika nantinya akan menjadi penghuni neraka”. Karena sumpah itu, akhirnya Jibril batal mengambil tanah itu dan melaporkan kejadiannya kepada Allah Ta’ala. (Inilah kenapa kita tidak boleh sembarangan mengucapkan kata sumpah)

Kemudian Allah menyuruh Mikail untuk mengambilnya. Bumi bersumpah lagi dan malaikat Mikailpun batal mengambil tanah itu.

Kemudian Allah menyuruh Malikat Izroil. Ketika Izroil turun ke bumi, ia langsung memukul bumi dengan pedangnya dan bumipun bergetar ketakutan, lantas malaikat Izroil mencabutnya segenggam. Tanah yang diambil oleh malaikat Izroil berasal dari tanah yang beragam dan di ambil satu genggam:

  • Tinggi rendahnya, mulai dari tanah dataran tinggi dan rendah,
  • Sifatnya, dari tanah liat dan gembur,
  • Warnanya, ada yang hitam dan putih,
  • Penjurunya, ada yang dari bumi paling barat, bumi paling timur, utara dan selatan

(Inilah asal-usul manusia menjadi berbeda-beda, mulai dari warna kulit, sifat (ada yang kasar/keras dan lemah lembut, tinggi dan pendeknya dan dan tempat tinggalnya).

Nabi sawsabda:

"أن الله خلق آدم من قبضة قبضها من جميع الأرض فجاء بنو آدم على مثل ذلك، منهم الطيب والخبيث والسهل والحزن وغير ذلك" رواه الترمذي مرفوعا

“Sesungguhnya Allah swt menciptakan Adam as dari segenggam tanah dari seluruh penjuru bumi, maka kemudian manusiapun seperti itu, yakni ada yang baik dan ada yang buruk, lemah lembut kasar, senang, sedih dan lainnya”. HR. Tirmidzi, hadis Marfu’.

Kemudian tanah itu di bawa menghadap Allah. Lalu Allah berfirman kepada Izroil: “Mengapa engkau tidak mengikuti sumpahnya (bumi) ?. Jawab Izroil: ”Perintah-Mu lebih aku ikuti dan aku takuti daripada sumpahnya”. Kemudian Allah berfirman: “Engkaulah Malaikat pencabut nyawa (malakul maut)” (Itulah asal mula malaikat Izroil di tugaskan sebagai pencabut nyawa).

Ketika Izroil mengambil paksa (mencabut) sebagian dari bumi, bumipun menangis merasa kehilangan (Inilah sebabnya kenapa setiap kematian di tangisi oleh keluarga yang di tinggalkannya).

Kemudian Allah berfirman kepada bumi: “Sesungguhnya kelak akan Aku kembalikan kepadamu apa yang Aku ambil darimu itu”.

Dalam Surah Thaha: 55 Allah berfirman: “Dari bumi (tanah) Kami jadikan kamu dan kepadanya Kami akan kembalikan kamu dan daripadanya Kami akan keluarkan kamu pada kali yang lain’.

Kemudian Allah menyuruh Izroil membawa tanah itu ke sorga agar di serahkan kepada malaikat Ridwan (penjaga sorga), tak terkecuali tanah warna putih. Untuk tanah putih ini Allah menyuruh malaikat Jibril yang menyerahkannya kepada malaikat Ridwan. Dari tanah putih ini Allah ciptakan para Nabi. Lantas Allah menyuruh malaikat Ridwan untuk mencampur tanah itu dengan air Tasnim (Ialah air sorga yang di minum oleh orang-orang yang dekat dengan Allah), sampai jadilah sebuah cairan tanah yang sangat besar.


Jalan Ma'rifat Kepada Allah

Wajib Ma'rifat Kepada Allah


Ma’rifat kepada Allah Ta’ala adalah wajib hukumnya bagi setiap manusia yang Mukallaf. ( Mukallaf ialah orang yang berakal sehat dan telah baligh / telah berumur lima belas tahun atau telah mengeluarkan darah putih (air mani) meskipun dengan cara bermimpi bagi pria. Dan bagi wanita apabila telah berumur sembilan tahun, telah mengeluarkan darah haid atau telah mengeluarkan air mani, baik dengan cara persetubuhan suami istri atau dengan cara bermimpi.)

Sebagaimana Sabda Rosulullah SAW :


AWWALUD DIINI MA’RIFATULLAHI TA’ALA
Maksudnya : Awalnya Agama Adalah Mengetahui akan Allah Ta’ala

Sebabnya kita harus mengenal Allah Ta’ala terlebih dahulu dalam agama adalah, agar manusia dalam menjalankan ibadahnya dapat diterima oleh Allah Ta’ala.

Demikian halnya, maka amaliah haruslah beserta ilmunya, karena amaliah yang tidak diserati ilmunya adalah sia-sia belaka, dan tidak akan bermanfaat untuk bekal di akhirat, mungkin hanya bisa bermanfaat tatkala kita didunia saja.

  • Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang beramal tidak mengikuti perintah kami (sesuai Ilmunya), maka akan ditolak." (HR Muslim)
  • Imam Syafii berkata, "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia." (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).
  • Dalam kitab Zubad karangan Ibn Ruslan dikatakan:wa kullu man bi ghairi ilmin ya'malu // a'maluhu mardudatun la tuqbalu.
  • Setiap orang yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu // maka amalnya ditolak, tidak diterima. Itu namanya amal-amalan, bukan amal yang sesungguhnya.

Tapi dalam masalah ilmu, kita harus waspada dan hati-hati, jangan sampai kita keliru. Dan Ilmu sendiri adalah : “PENGETAHUAN”. Tapi bukan hanya kita harus tahu tentang hukum-hukum syara’ saja yang menjelaskan sah dan batalnya ibadah, tapi kita wajib mengetahui (MA’RIFAT) pula kepada Allah Ta’ala, dan Rosulullah. Sebab itu adalah diibaratkan sebuah tempat untuk menyimpan semua amal ibadah kita semua, sehingga tidak sampai tercecer.

Sebagai perumpamaan kita hidup dalam keseharian di dunia ini, setiap saat kita mengumpulkan barang-barang kebutuhan rumah kita baik untuk kebutuhan dan bahkan mempercantiknya, seperti meja, kursi, almari, dan sebagainya. Demikian halnya Ma’rifat kepada Allah Ta’ala, bagaikan kita memiliki rumah yang kokoh dan besar, dan amaliah di ibaratkan dengan barang barang yang kita kumpulkan dengan jerih payah kita, agar ianya bisa disimpan, ditempatkan pada tempat yang layak, agar kita bisa kerasan dalam menempati rumah kita tersebut.

Berbeda dengan kalau kita tidak memiliki rumah (tempatnya), sekalipun kita banyak memiliki barang-barang bagus, berkwalitas, dan mahal, tapi kita tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Dan tak mungkin kita menyimpan barang-barang yang kita miliki di halaman terbuka, atau di manapun, sehingga kitapun tidak akan nyaman menempati tempat kita tersebut. Demikan halnya barang barang tersebut pasti cepat rusak, lapuk dimakan hujan dan panas, sehingga kita tidak dapat menikmati hasil jerih payah kita tersebut.

Apalagi kita berkehendak membawa semua amliah kita untuk bekal nanti di Akhirat, maka lebih wajib bagi kita untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala, sebab itu akan digunakan kita untuk tempat amaliah kita nantinya.

Umpama ini tidaklah kita ketahui sejak dini, maka akankah kita mampu kembali ke asal kita nantinya?? Karena tatkala Sakaratul Maut datang, tak ada lagi tempat pertanyaan, dan Akliah kita hanya mampu merespon rasa sakit yang begitu dahsyat tatkala sakaratul maut datang.
  • Dalam Al-Quran Allah Ta’ala berfirman tentang saat-saat terakhir kehidupan ini, “Dan tidaklah tobat diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, `Sesungguhnya saya bertobat sekarang ….’.” (Qs an-Nisa’ [41: 18)
  • Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadits, “Taubat seorang hamba tidak akan diterima ketika ia telah mencapai ajal.”
  • Siti Aisyah Ra berkata, “Aku tak percaya bahwa rasa sakit saat ajal seseorang yang lain lebih ringan daripada rasa sakit saat kematian Rasulullah seperti yang ku-saksikan.” Rasulullah Saw berdoa, “Ya Allah Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengambil nyawa dari ruas, sendi, tulang-belulang bahkan dari ujung jari. Ya Allah Tuhanku, mudahkanlah kematian itu untukku.” Beliau bersabda sesaat menjelang ajalnya, “Rasa sakit saat kematian datang ibarat ditetak dengan 300 mata pedang.”
  • Firman Allah SWT: “Oleh itu, bukankah ada baiknya mereka mengembara di muka bumi supaya – dengan melihat kesan-kesan yang tersebut – mereka menjadi orang-orang yang ada hati yang dengannya mereka dapat memahami, atau ada telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? (Tetapi kalaulah mereka mengembara pun tidak juga berguna) kerana keadaan yang sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada” (al-Hajj:46)
  • Allah berfirman: “Sesungguhnya telah Kami sediakan untuk penghuni neraka dari golongan jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak , bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang alpa (tidak berzikir)” (Al-A’raf:17 ) “
  • Allah berfirman: “Sesiapa yang buta di dunia buta juga di akhirat”.(Surah Bani Israil, ayat 72).
Inilah yang menjadi masalah kepada hati manusia tatkala hatinya sudah menjadi buta. Tidak berfungsi sebagaimana sepatutnya. Demikian, umpama kita buta kepada Allah Ta’ala dan Rosulullah waktu di dunia, maka di akhirat pun ia tetap akan buta. Dan semasa di akhirat dengan keadaan buta, mampukah kita membawa amaliah kita yang begitu banyak?? Dan akan dibawa kemana semua amaliah kita tersebut ??.

Karena kita tidak mampu kembali kepada Allah tempat kembalinya kita semua, maka amaliah kita akan kita bawa-bawa kemanapun kita bawa, sehingga mungkin suatu saat kita tersesat ke alam-alam siluman, dan amaliah bawaan kita akan dijadikan kekayaan di alamnya, serta kita sendiri akan dijadikan budaknya.

Oleh sesab itu, selagi kita masih hidup di dunia mari kita ikhtiyar untuk bisa Ma’rifat kepada Allah Ta’ala, kita harus sedia payung sebelum hujan (Pribahasa), maksudnya adalah kita harus bisa bepergian ke hari kemudian, atau mati sebeum mati, sebab tanpa kita mati kita tak akan mampu tahu tentang alam akhirat, dan untuk tahu alam akhirat, maka kita harus bisa belajar mati sebelum kita mati.


ANTAL MAUTU – QOBLAL MAUTU
“Matilah kamu sebelum kamu Mati”


” Wahai manusia ! Sesungguhnya kamu harus berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk bertemu dengan Tuhanmu, sampai kamu bertemu dengan-Nya “.( QS Al Insyiqoq 84 : 6 )

Dengan demikian, Alam Akhirat atau asal muasal kita adalah harus kita ketahui sejak sekarang sewaktu kita masih di alam dunia, agar nanti kita tidak tersesat jalan waktu kita di panggil pulang ke Khadirat-Nya.

Wajib Ma'rifat Kepada Allah

Mutiara Kema'rifatan

Sengaja  saya  meluangkan  waktu  untuk  menyalin  dan  menterjemahkan  buku  ini  dari buku aslinya, karena buku aslinya telahpun pudar, dan menggunakan bahasa sunda dengan ejaan lama sehingga susah untuk dibaca dan dimengerti. Demikian pula menurut  hemat  saya  ,  sekarang  telahpun  banyak  diantara  kita  yang  membutuhkan  buku  ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.

Sudah  lama  sekali  saya  bermaksud  menyampaikan  buku  “MUTIARA KAMA’RIFATAN”  ini,  karena  begitu  banyaknya  yang  membutuhkan  buku  ini  sebagai pembelajaran  dan  petunjuk  jalan  serta  penyempurna  Syari’at  Agama  Islam,  Terutama sekarang ini banyak sekali saudara kita yang mempelajari lebih dalam dari hanya sekedar kebathinan.

Serta berkat  Qodrat dan Irodat-Nya Allah Yang Maha Suci, Ikhtiyar saya beserta saudara-saudara  yang  satu  tujuan,  dapat  juga  melaksanakan  apa  yang  tersebut  diatas, demikian  juga  dapat  persetujuan dari yang  berhak  mengarang  buku  “KAMA’RIFATAN“ yang berhubungan dengan “TAREKAT HAK MALIAH”.

Semoga  dengan  adanya  buku  “MUTIARA  KAMA’RIFATAN”  ini,  ada  hikmah  dan manfaat bagi Negara dan rakyatnya.  Sebagaimana yang dimaksud oleh beliau pengarang buku  “MUTIARA  KAMA’RIFATAN”  adalah  agar  setiap  manusia  hidup  ini  bisa  “REPEH  – RAPIH,  SILIH  ASAH  -  SILIH  ASUH”,  agar  dapat  merasakan  “SUBUR,  MAKMUR,  GEMAH, RIPAH, REPEH, RAPIH, LOHJINAWI”, di Dunia dan Akhiratnya. Amiiin.

Untuk Download Ebook ini silahkan klik tautan dibawah ini :

Mutiara Kema'rifatan

Panunggaling Jati

Wewarah nyata kahananing Pangeran, kang binasaake luwih samar, tanpa rupa tanpa suwara, dudu lanang dudu wadon lan dudu wandu, tanpa prenah, tanpa panggonan, dinulu ora katon, didumuk ora karuan.
Iku teteping kahanan ana ing ndalem cipta sasmitaning kang waskita,mula para guru anggone aweh pituduh, kaaumpamakake mengkene :
Sejatine ora ana apa-apa, sakehing wewujudan, rerupan, warna lansesebutan, iku dudu sejati lan dudu panuksmane Pangeran, Dene kang kadunungan panguwasanlan kamulyan ing sabarang kabeh, iku amung ingsun.
Yen durung bisa mengerteni wewejangan mau prayoga den tlateni marsudi maksude surasa, ngimpun sakehing wejangan kabeh, miturut kawruh kang sanyata kaya ingisor iki :
Sadurunge gumelar sakabehing kahanan ing marcapada lan maksapada (donya lan akerat), iku kang disik mung urip kita, jumeneng ana sajroning wiji kang pinggit, sak temene ya urip kita, kang tetep sinuksma ing pageran kita, mula den bisa pada rumeksa ing urip kita pribadi, saran ngati-ati, kang gemi nastiti kang dadi witing pangauripanaja nganti ora bisa jumenegng uripe. Beda kara manungsa kang wis katerima sampurna kawruhe tetep ing pangandel, ora bakal ketempela ing pangrecana, tegese, ora susah ing kaluwen, kamlaratanlan nuju kataman ing lelara, ora wedi tekane pati. Dene kasubut wong lumprah wae, kudu nglakoni pangupaya kang ndadekake santosane uripe.
Dene urip kitaa tetelane menawa nyata rinasuk dening pangeran kita, nyata saka solah bawa kita,iku sejatine terusane saka karsane pangeran kita, mungguh panuksmane pangeran anggone rumasuk ing badan kita.
Uga ana prabedane mungguh wateke kawula lan Gusti.
Dena watake Gusti yaiku : tangi, tuwuk, ayem, parem, sareh iling, tetep, waspada, santosa, bunggah, waras lan raharja.
Dene watake kawula : arip, luwe, ngelak, sahwat,sering lali, bingng, pangling, uwas, susah, lara lan bilahi, kabeh mau saka pakertine pepesten kita pribadi.
Mungguh pratikele menawa arep mangesti utawa manekung, mengkene :
Wiwitane kudu ngurangi mangan, turu lan sahwat, apa dene ngurangi sekabehing kekarepan, ing tengah wengi banjur sesuci raga, adus busana lan geganda, ngedepake keblate dewe, yaiku ing jaja, yen wis tekan wayah bagun esuk banjur pati raga, nutupi pancadriya, nyegah turas, sarip lan sesuker, banjur nata mlebu metune napas, yaiku nareke napas saka puser (napas mlebu) diterusakake munggah ngliwati cekak tekan ing embun-embunan. Narike napas karo nyebut “HU” dibatin wae, sak wise napas saka embun-embunan di enengake sedela, yen wis krasa abot, banjur di wetokake sarana alon-alon tekan ing puser kabarengan nyebut “ALLAH” (ing batin).
Supaya ditindakake saben dina lan wengi, disebut shalat daim / sholat batin, tanpa rekaat tanpa wayah, paribasan shalat ngiras nyambut gawe, lungguh karo mlaku , mlaku karo ndoprok, mlayu karo leren, mbisu karo ngomong, lungo karo turu, turu karo melek, jalaran sholat dhaim iku hakekating sholat, mula tampa rukuk, tampo sujud, amung dumunung ana rahsa telenge urip.
Dene adege ya urip kita pribadi, rukuku pandeleng kita, sujude pangganda kita, iktikate pamiarsa kita, wacane ayat pangrasa kita, lungguhe tetepe iman kita, pujine mlebu metune napas kita, dhikire awas eling kita, keblate marang eneng ening kita, ajo was sumelang maneh.
Mula mengkono sebab jumeneng Dzat, Sifat, Asma, Afngal kita, iku wis dadi qur’an sejati mertandani sejatine shalat kabeh diarani shalat daim.
Dena iptitahe sholat dhaim mengkene :
Niatingsun shalat daim, kanggo salawase urip ingsun, adege ya urip ingsun, rukuke paningal ingsun, iktidale pamiarsaningsun, sujude pangambuningsun, wewacane ayat pangucapingsun, lungguhe tetepe imaningsun, tahyate mantepe tauhidingsun, salame makrifat islamingsun, pepujine mlebu metune napas ingsun, pujine awas elingingsun, keblate adheg eneng-eningingsun, perlu nglakoni wajib saka kodrat-iradatingsun dewe, Mangkana mau pasrah anelangsa sanubari marang dzating urip kita pribadi, wis aja sumelang.
Dene shalat daim iku, menawa disemak karo hakekating rukun islam utawa karo katimbang pikukuhe iman, surasane nunggal misan bae lire mengkene :
Rukun islam ana 5 prakara yaitu :
1. Syahadat, mungguh hakekate ana laku temen dunungge ing wicara, angger nuhoni wicarane ya iku tetepe syahadat
2. Pasa, hakekate ana laku nrima, dumunung ing pangganda, angger marem katandukan ambu, kang menginake (ora ngambu-ambu sakebehe kaelekan) ya iku tetep pasane.
3. Zakat, hakekate ana laku utama, tegese sabar dumunung ana pandulu, angerbisa mbutakake mripat, ya iku nentepi zakat.
4. Shalat, hakekate ana laku utama, tegese sabar dumunung ana ing pangrungu, angger bisa anulekake tanlingan, ya iku anglungguhi shalat.
5. Haji, hakekate ana panalangsa lan nentepi janji, dumunung ana pangrasa lan solah bawa, angger bisa nyirnakake pangrasa lan mati sarira, ya iku ngakoni haji.
Kabeh mau paribasane : lesan mbisu, irung pepet, mripat wuta, kuping tuli, badan mati, yaiku kang nama tetep kuasa nindakake rukun islam sejati, sebab nyata kuasa mati sa jrone urip, urip sajrone pati, ya urip salawase.
Pikukuhe Iman ana 6 prakara yaiku :
1. Percaya ing Allah, hahekate ngestokna uripe jasad kita, sarta rumangsamenawa dadi sipating Allah sejati, lire angger jasad kita tansah sinucenan, sarta sabarang tindak tansah ngenggoni ing kautaman, mengkono mau nama ngandeling Allah.
2. Percaya ing Malaekat, hakekate ngestokake wahyane pandeleng, pamicara, pangganda, pangrasa, pangecap, lire angger kita tansah ngati-atianggon kita matrapake tanduking netya lan wirasa lsp, yaiku hakekate tetep temen-temen ngandel ing malaekate Allah, sebab hakekate malaekat iku dumunung anan sajroning pancadriya yaiku :
Malaekat Jibril AS, dumunung ana ing pangrasa.
Malaekat Mikail AS, dumunung ana ing pangganda.
Malaekat Isrofil AS, dumunung ana ing Pandulu.
Malaekat Ngijrail AS, dumunung ana ing Wicara.
3. Percaya ing utusan, hakekate ngetokna wahanane rahsa, lire angger kuwasa ngendaleni pangrasa lan ngeningake pandeleng lereme cipta mengkono iku tetep temen-temen ngandel utusane Allah.
4. Percaya ing kitab, hakekate ngestokake kahanane nyawa, lire awas lakuning urip uga eling lan ngerti ing dosa kita, mengkono mau angger tansah eling ing batin, yaiku tetep temen-temenpercaya kitabe Allah.
5. Percaya untung ala becik saka Allah, tegese tekane begja cilaka saka Allah, hakekate ngestokakemenawa nafsu iku saka wedharing budi lan pribadi, lire angger enggal pasrah nalangsa marang Dzat kita, ya iku tetep temen-temen ngandel ing takdire Allah.
6. Percaya ing dina Akhir, tegese dina wekasan, hakekate ngestokake ing pepestene pati saka wisesaning Dzat kita pribadi, lire angger karep nindaknaing tekat kita kang santosa, iku tetep temen-temen ngandel ing dina akhir saka wisesaning Allah.
Wewarah nyata kahananing Pangeran, kang binasaake luwih samar, tanpa rupa tanpa suwara, dudu lanang dudu wadon lan dudu wandu, tanpa prenah, tanpa panggonan, dinulu ora katon, didumuk ora karuan.
Iku teteping kahanan ana ing ndalem cipta sasmitaning kang waskita,mula para guru anggone aweh pituduh, kaaumpamakake mengkene :
Sejatine ora ana apa-apa, sakehing wewujudan, rerupan, warna lansesebutan, iku dudu sejati lan dudu panuksmane Pangeran, Dene kang kadunungan panguwasanlan kamulyan ing sabarang kabeh, iku amung ingsun.
Yen durung bisa mengerteni wewejangan mau prayoga den tlateni marsudi maksude surasa, ngimpun sakehing wejangan kabeh, miturut kawruh kang sanyata kaya ingisor iki :
Sadurunge gumelar sakabehing kahanan ing marcapada lan maksapada (donya lan akerat), iku kang disik mung urip kita, jumeneng ana sajroning wiji kang pinggit, sak temene ya urip kita, kang tetep sinuksma ing pageran kita, mula den bisa pada rumeksa ing urip kita pribadi, saran ngati-ati, kang gemi nastiti kang dadi witing pangauripanaja nganti ora bisa jumenegng uripe. Beda kara manungsa kang wis katerima sampurna kawruhe tetep ing pangandel, ora bakal ketempela ing pangrecana, tegese, ora susah ing kaluwen, kamlaratanlan nuju kataman ing lelara, ora wedi tekane pati. Dene kasubut wong lumprah wae, kudu nglakoni pangupaya kang ndadekake santosane uripe.
Dene urip kitaa tetelane menawa nyata rinasuk dening pangeran kita, nyata saka solah bawa kita,iku sejatine terusane saka karsane pangeran kita, mungguh panuksmane pangeran anggone rumasuk ing badan kita.
Uga ana prabedane mungguh wateke kawula lan Gusti.
Dena watake Gusti yaiku : tangi, tuwuk, ayem, parem, sareh iling, tetep, waspada, santosa, bunggah, waras lan raharja.
Dene watake kawula : arip, luwe, ngelak, sahwat,sering lali, bingng, pangling, uwas, susah, lara lan bilahi, kabeh mau saka pakertine pepesten kita pribadi.
Mungguh pratikele menawa arep mangesti utawa manekung, mengkene :
Wiwitane kudu ngurangi mangan, turu lan sahwat, apa dene ngurangi sekabehing kekarepan, ing tengah wengi banjur sesuci raga, adus busana lan geganda, ngedepake keblate dewe, yaiku ing jaja, yen wis tekan wayah bagun esuk banjur pati raga, nutupi pancadriya, nyegah turas, sarip lan sesuker, banjur nata mlebu metune napas, yaiku nareke napas saka puser (napas mlebu) diterusakake munggah ngliwati cekak tekan ing embun-embunan. Narike napas karo nyebut “HU” dibatin wae, sak wise napas saka embun-embunan di enengake sedela, yen wis krasa abot, banjur di wetokake sarana alon-alon tekan ing puser kabarengan nyebut “ALLAH” (ing batin).
Supaya ditindakake saben dina lan wengi, disebut shalat daim / sholat batin, tanpa rekaat tanpa wayah, paribasan shalat ngiras nyambut gawe, lungguh karo mlaku , mlaku karo ndoprok, mlayu karo leren, mbisu karo ngomong, lungo karo turu, turu karo melek, jalaran sholat dhaim iku hakekating sholat, mula tampa rukuk, tampo sujud, amung dumunung ana rahsa telenge urip.
Dene adege ya urip kita pribadi, rukuku pandeleng kita, sujude pangganda kita, iktikate pamiarsa kita, wacane ayat pangrasa kita, lungguhe tetepe iman kita, pujine mlebu metune napas kita, dhikire awas eling kita, keblate marang eneng ening kita, ajo was sumelang maneh.
Mula mengkono sebab jumeneng Dzat, Sifat, Asma, Afngal kita, iku wis dadi qur’an sejati mertandani sejatine shalat kabeh diarani shalat daim.
Dena iptitahe sholat dhaim mengkene :
Niatingsun shalat daim, kanggo salawase urip ingsun, adege ya urip ingsun, rukuke paningal ingsun, iktidale pamiarsaningsun, sujude pangambuningsun, wewacane ayat pangucapingsun, lungguhe tetepe imaningsun, tahyate mantepe tauhidingsun, salame makrifat islamingsun, pepujine mlebu metune napas ingsun, pujine awas elingingsun, keblate adheg eneng-eningingsun, perlu nglakoni wajib saka kodrat-iradatingsun dewe, Mangkana mau pasrah anelangsa sanubari marang dzating urip kita pribadi, wis aja sumelang.
Dene shalat daim iku, menawa disemak karo hakekating rukun islam utawa karo katimbang pikukuhe iman, surasane nunggal misan bae lire mengkene :
Rukun islam ana 5 prakara yaitu :
1. Syahadat, mungguh hakekate ana laku temen dunungge ing wicara, angger nuhoni wicarane ya iku tetepe syahadat
2. Pasa, hakekate ana laku nrima, dumunung ing pangganda, angger marem katandukan ambu, kang menginake (ora ngambu-ambu sakebehe kaelekan) ya iku tetep pasane.
3. Zakat, hakekate ana laku utama, tegese sabar dumunung ana pandulu, angerbisa mbutakake mripat, ya iku nentepi zakat.
4. Shalat, hakekate ana laku utama, tegese sabar dumunung ana ing pangrungu, angger bisa anulekake tanlingan, ya iku anglungguhi shalat.
5. Haji, hakekate ana panalangsa lan nentepi janji, dumunung ana pangrasa lan solah bawa, angger bisa nyirnakake pangrasa lan mati sarira, ya iku ngakoni haji.
Kabeh mau paribasane : lesan mbisu, irung pepet, mripat wuta, kuping tuli, badan mati, yaiku kang nama tetep kuasa nindakake rukun islam sejati, sebab nyata kuasa mati sa jrone urip, urip sajrone pati, ya urip salawase.
Pikukuhe Iman ana 6 prakara yaiku :
1. Percaya ing Allah, hahekate ngestokna uripe jasad kita, sarta rumangsamenawa dadi sipating Allah sejati, lire angger jasad kita tansah sinucenan, sarta sabarang tindak tansah ngenggoni ing kautaman, mengkono mau nama ngandeling Allah.
2. Percaya ing Malaekat, hakekate ngestokake wahyane pandeleng, pamicara, pangganda, pangrasa, pangecap, lire angger kita tansah ngati-atianggon kita matrapake tanduking netya lan wirasa lsp, yaiku hakekate tetep temen-temen ngandel ing malaekate Allah, sebab hakekate malaekat iku dumunung anan sajroning pancadriya yaiku :
Malaekat Jibril AS, dumunung ana ing pangrasa.
Malaekat Mikail AS, dumunung ana ing pangganda.
Malaekat Isrofil AS, dumunung ana ing Pandulu.
Malaekat Ngijrail AS, dumunung ana ing Wicara.
3. Percaya ing utusan, hakekate ngetokna wahanane rahsa, lire angger kuwasa ngendaleni pangrasa lan ngeningake pandeleng lereme cipta mengkono iku tetep temen-temen ngandel utusane Allah.
4. Percaya ing kitab, hakekate ngestokake kahanane nyawa, lire awas lakuning urip uga eling lan ngerti ing dosa kita, mengkono mau angger tansah eling ing batin, yaiku tetep temen-temenpercaya kitabe Allah.
5. Percaya untung ala becik saka Allah, tegese tekane begja cilaka saka Allah, hakekate ngestokakemenawa nafsu iku saka wedharing budi lan pribadi, lire angger enggal pasrah nalangsa marang Dzat kita, ya iku tetep temen-temen ngandel ing takdire Allah.
6. Percaya ing dina Akhir, tegese dina wekasan, hakekate ngestokake ing pepestene pati saka wisesaning Dzat kita pribadi, lire angger karep nindaknaing tekat kita kang santosa, iku tetep temen-temen ngandel ing dina akhir saka wisesaning Allah..
Panunggaling Jati

Ngelmu Urip Bagian 21

Anane pemerintahan model ‘kabuyutan’ lan ‘bebandaran’ nuduhake menawa sejatine Jawa iku duwe sistim pemerintahan sing teratur lan asli. Dudu jiplakan saka Asia daratan (India, Burma, lsp.) kaya dene panemune para pakar sejarah asing. Pancen ana teori-teori ‘nggladrah’ babagan asal-usule wong Jawa klebu budaya lan peradabane. Cilakane, anggone nyusupake teori mau pinter banget, kasebut ‘Jangka’. Manut teori ‘Jangka’ iki, asal-usule wong Jawa iku saka krenahe Sultan Ngerum (Timur Tengah) kang mrihatinake kahanane P. Jawa kang tansah kompal-kampul ing tengahing samodra. Banjur utusan para syech-syech sektine supaya mantek P. Jawa. Panteke wujud Gunung Tidar (Magelang). Sawise P. Jawa anteng banjur diiseni manungsa kang dijupukake saka wilayah Asia daratan. Diusung nganggo prau komplit sak ingon-ingon lan kaperluwan bukak sawah pertanian. Saben prau diiseni wong salaksa (10.000). Menawa dinalar, lha rak ketok banget anggone arep gawe ‘pinunjule’ wong-wong saka Timur Tengah. Buktine, wong Timur Tengah ora duwe ‘budaya bahari’, kok bisa-bisane gawe prau sing bisa momot puluhan ewu manungsa sak kewan-kewane. Lha ya kepriye bisane gawe prau, wong ora duwe alas kang kayu-kayune bisa dianggo gawe prau.
Ana maneh teori awur-awuran kang disebut ‘Jangka’ mau. Yaiku, crita menawa Sang Prabu Jayabaya iku muride Syech Samsujen kang asale saka Ngerum. Klebu nalar apa ora menawa “Ratu Gung Binathara Jawa’ mik trima dadi muride ‘syech’ saka negara Ngerum sing ora kondhang babar pisan ana ing sejarah?
Strategi penjajahan peradaban, ngono panemune KSM babagan anane teori-teori ‘nggladrah’ bab asal-usule wong Jawa lan budayane kang disebut ing ‘Jangka’. Bisa uga panemuku iki akeh sing ora sarujuk. Amarga kadhung percaya banget karo ‘jangka-jangka’ kang sumebar ing tengahing masyarakat. Dhek malem Selasa Kliwon (16 Juli 2007) kepungkur, KSM dikon sesorah ‘Falsafah Panunggalan’ neng ngarepe warga Yayasan Kanthil Semarang. Ana peserta sing takon, posisine
‘Jangka Jayabaya’ neng Falsafah Panunggalan iku priye? Tak wangsuli, menawa ing jangka kang dikarepake isih ana wacana Prabu Jayabaya muride Syech Samsujen, iku jangka ‘omong kosong’. Jangka kang migunakake basa Jawa anyar kasebut perlu dirunut neng basa Kawi. Jalaran nyebut Prabu Jayabaya kang ing jamane maju banget kasusastran Kawi (Kakawin). Yen ora ana rujukan ing basa Kawi, cetha yen ‘jangka’ kang dikarepake karyane penjajah. Tujuwane kanggo
ngringkihake ‘kedaulatan Jawa’.
Para maos, kanyatane ing donya iku pancen ana jajah-menjajah antar peradabane manungsa. Ing kene, Jawa tansah dadi korban penjajahan utawa sing dijajah. Mula akibate budaya lan peradaban Jawa diasorake. Dianggep primitif, kebak klenik lan ketahayulan. Wusanane wong Jawa akeh sing rumangsa ‘isin’ marang budaya lan peradaban warisan leluhure. Amarga wedi mlebu neraka, wong Jawa wis akeh kang ora gelem nindakake lakubudayane kang dicap ‘syirik’ utawa
bersekutu karo setan.
Kamangka, sejatine lakubudaya Jawa iku luhur banget. Ana ing sarasehan Selasa Kliwonan Yayasan Kanthil, tak aturake conto kaluhurane lakubudaya Jawa kang pancadane Falsafah Panunggalan.. “Kambing melahirkan pun perlu diselamati”, ngono irah-irahan berita Harian
Wawasan anggone ngomentari sesorahku. Nylameti laire wedhus, satleraman pancen kayadene tumindak nganeh-anehi lan mubadir. Nanging akeh sing ora mangerti menawa slametan laire wedhus kang wujud ‘dhawet’ iku nuduhake ‘ide Panunggalan’. Senajan wujude wedhus, kanyatane uga titahe Gusti Allah. Wong Jawa kang sadar Panunggalan lan rumangsa diparingi
‘Cipta Rasa Karsa’ mesthi mudheng menawa kudu ngurmati laire titahing Gusti. Perkara peradaban liya nganggep wedhus mik kewan kang syah ‘dibantai’ kanggo ritual agama, iku dudu urusane wong Jawa kang landhep ‘rasa pangrasane’, lantip ciptane, lan tulus sumarah karsane
tumuju marang Panunggalan.
Conto luhure peradaban Jawa liyane, yaiku tradisi sesaji ing malem Jumuwah Kliwon utawa Selasa Kliwon. Wujude sesaji ‘kembang setaman’ kang ing esuke disebar ing prapatan dalan utawa plataran omah. Akeh kang nganggep lakubudaya iki klenik, tahayul, lan syirik. Nanging coba tak aturi nyimak rapal mantrane nyebar kembang, mangkene:
“Ora nyebar kembang, nanging nyebar kabecikan. Gusti Ingkang Maha Kuwasa keparengna Paduka paring kawilujengan lan karahayon dhumateng sedaya titah Paduka ingkang langkung ing prapatan (plataran) punika.” Lha mbok wujud gendruwo, coro, utawa kirik sing liwat katut disuwunake keslametan lan karahayon. Mangga dipenggalih lan ditandhing karo lakubudaya liyane!.

Ngelmu Urip Bagian 21

Ngelmu Urip Bagian 20

Wuku lan wetonan sejatine dudu ramalan, nanging petung utawa malah bisa diarani sawijining kawruh kanggo mangerteni ‘situasi lan kondisi’ alam lan wataking manungsa manut weton lan wuku kelahirane. Gandheng manungsa kadunungan ‘cipta rasa karsa’ mangerteni kahanan alam semesta lan wewatekane dhewe-dhewe iku migunani kanggo nglakoni urip. Saora-orane kanggo
pangeling-eling murih bisa srawung kepenak karo sapadha-padha.
Pratelan wuku lan wetonan uga dudu kodrat, ananging amung ancer-ancer kahanan kang bisa disiasati dening dayaning ‘cipta rasa karsa’ kang diduweni manungsa. Ya ing kene iki perlune ngoperasionalake kesadaran ber-Tuhan, kesadaran kesemestaan lan kesadaran keberadaban. Menawa ing jeroning batin kita tansah ngupadi nglakoni urip kang ‘becik-bener-pener’ bakale
ya dituntun manggih kamulyan temenan. Beja-cilaka, seneng-susah amung kahanan kang lumrah dialami dening manungsa.
Ngelmu urip candhake ngrembuk bab ‘kesadaran keberadaban’. Tinitah dadi manungsa kang diparingi ‘cipta rasa karsa’ wus samesthine kudu beradab utawa nduweni ‘budi pekerti luhur’. Pigunane kanggo urip bebarengan karo sapadha-padha (manungsa liyane). Ing tengahing bebrayan pancen ana kang duwe panganggep menawa ‘peradaban’ Jawa isih kegolong primitif.
Panganggepe didhasarake anane lakubudaya Jawa ‘atur sesaji’. Malah kepara ana sing ndakwa menawa lakubudaya ‘atur sesaji’ iku ‘bersekutu’ karo setan. Ya, kabeh mau syah-syah wae, wong mung panemu. Tur akeh-akehe panemu kang mangkono iku ora dikantheni ‘nyinau’ luwih dhisik. Nek dijlentrehake larah-larahe sing klebu nalar, padha mbregudul emoh nampa. Lha ya
wis sumangga, wong kadhung nampa piwulang saka peradaban liya kang dianggep luwih bener lan moderen. Peradaban Jawa iku ngrembakane kanthi aras peradaban pertanian sawah lan kebaharian. Ana ing peradaban iki kanyatane dibutuhake ‘makarya bebarengan’. Ora ana
pegaweyan kang bisa ditandangi ijen. Olah tani nggarap sawah lan misaya iwak (kenelayanan) ora bisa tumandang ijen. Mesthi ana sangkut-paute karo manungsa liyane. Contone bab pengairan sawah cetha kudu ana ‘manajemen bersama’ murih padha bisa entuk banyu saka sumber alam kang uga dadi ‘milik bersama’. Semono uga nalika kudu golek iwak neng tengah laut,
mesthi bebarengan sak perahu.
Aras peradaban kang kasebut ndhuwur adoh banget sungsate menawa dibandhingake karo aras budaya ‘penggembala ternak’ ing Asia Daratan lan ‘pertanian kebun’ ing Eropa. Kekarone bisa ditandangi ijen utawa sak keluarga thook. Mula sing berkembang ‘individualisme’ dudu ‘kebersamaan’. Ana ing peradaban kang individualis banjur thukul anane budaya ‘juragan-pekerja’ lan kang ekstrim budaya ‘majikan-budhak’. Ana ing peradaban individualis banjur akeh tabrakan kepentingan: individu, keluarga (klan), lan kabilah kang entek-entekane wujud konflik.
Konflike rebutan padhang penggembalaan, rebutan kesuburan lahan perkebunan, rebutan budhak, lan rebutan ‘kamisuwuran-bandha-wanita’.
Beda banget karo aras peradaban Jawa kang pertanian sawah lan kebaharian. Ana ing peradaban iki, kanthi alamiah wong-wonge padha sadhar menawa ora bisa urip ijen. Padha sadar menawa antarane manungsa siji lan sijine ana ‘hubungan lan saling tergantung’. Biyen=biyene, masyarakat Jawa sing pedalaman (pertanian) nyawiji ana wilayah ‘Kabuyatan’, dene sing
neng pesisir ing wilayah ‘bebandharan’. Malah sing nggumunake, ing masyarakat pesisir, pemimpine para wanita kang disebut Nyai Ageng. Dene ing para Buyut kang akeh-akehe para pria disebut ‘Ki Buyut’ utawa ‘Ki Gedhe’.
Nyai Ageng lan Ki Buyut (Ki Gedhe) kejaba nduweni kaluwihan kepinteran babagan ‘kepemimpinan sosial’, uga padaha nduweni karisma (kaluwihan) ing babagan spiritual. Wewatakane ‘ngayomi’, mula wargane bisa suyud lair terusing batin. Kabeh warga ing
‘bebandharan’ lan ‘kabuyutan’ bisa makarya bebarengan manut kabisane dhewe-dhewe. Arang banget anane ‘konflik’ amarga arase tansah migunakake ‘musyawarah’ kang dipimpin dening pemimpin utama, Nyai Ageng lan Ki Buyut.

Ngelmu Urip Bagian 20